Enam Tahun, Sejuta Kenangan di SD

         

          Enam Tahun, Sejuta Kenangan di SD


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Namaku Hafika murid kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Islam Al - Azhar 55 Jatimakmur

Sebelum beranjak ke jenjang SMP, kita semua tentu pernah melewati masa SD. Masa penuh cerita dimana kita bermain dan belajar bersama. SD bukanlah sekedar tempat untuk belajar menulis dan berhitung. Namun juga tempat kita berkembang dan menemukan jati diri kita. 

Buat aku pribadi, Sekolah Dasar Islam Al - Alaq bukan sekedar sekolah, tapi juga rumah kedua. Tempat dimana aku bertumbuh, terjebak selama 6 tahun bersama teman - teman sejati, belajar arti kebersamaan, merasakan suka dan duka, dan menemukan kenangan yang tak bisa terlupakan di setiap langkah saat menginjak keramik sekolah.


Bangunan bercat biru yang sedikit pudar, namun sudah diperbarui agar terlihat indah kembali. Pagar hitam yang tidak akan terbuka kembali jika sudah waktu masuk. Bel merah yang setiap jam pulang berteriak nyaring menyuruh anak - anak untuk pulang. Fasilitas yang di sekolah lain pasti ada, namun kenangannya tak sama.

Hari pertama masuk sekolah, masih lugu dan tidak tau banyak hal. Masuk gerbang untuk pertama kalinya, resmi menjadi anak kelas satu di sekolah itu. Setelah mengikuti tes dan Alhamdulillah keterima. Melihat wajah - wajah orang yang belum aku kenali. Duduk di kursi kecil dan meja yang menyesuaikana dengan badan seorang anak kelas satu pada umumnya. Wali kelasku menyambut kami dengan riang. Bernyanyi dan bermain selayaknya memperlakukan anak kelas satu yang baru masuk sekolah. Pada awalnya, memang aneh rasanya. Hari - hariku yang kosong dan biasa diisi dengan main sepanjang hari tiba - tiba harus duduk, belajar menulis dan berhitung. Seminggu berlalu, aku mulai familiar dengan muka yang kulihat setiap hari. Mulai mengenali dan setiap melihat mereka, berkata dalam hati "Itu  temanku!"


Maret 2020, kejadian tak terlupakan seluruh umat manusia. Datangnya penyakit jahat mengenaskan yang mengambil banyak nyawa. Anak kelas satu yang belum mengerti seperti aku dan teman - temanku saat itu iya iya saja ketika disuruh pembelajaran jarak jauh. Hari pertama sekolah daring terasa aneh bagiku. "Kenapa guru dan temanku di layar? Kenapa tidak di sekolah saja belajarnya?" Dalam hatiku berkata. Tapi yasudahlah, sudah diminta seperti ini.

Hari - hari kulalui dengan belajar dari rumah menggunakan laptop. Tak terasa aku sudah naik ke kelas dua. Sebenarnya sama saja, warga masih dihimbau untuk tetap berada dalam rumah. Kujalani hari demi hari belajar dari rumah, setiap pagi sehabis mandi langung membuka laptop. Bahkan terkadang makan di tengah pelajaran karena lapar. 

Saat aku naik ke kelas tiga dan sudah memasuki semester dua. Kami sudah diizinkan masuk sekolah. Pertama kali melihat kelasku. Sayangnya, kami tak lama di kelas itu. Waktu berjalan cepat hingga tiba saatnya untuk kami naik ke kelas empat.

Wali kelasku adalah seorang guru bahasa Inggris yang caring dan lucu. Tahu apa yang sedang nge-trend sekarang. Di pembelajaran suka di selipin lagu - lagu viral atau kalau ada waktu sehabis pelajaran pasti bikin video bareng - bareng. Setahun itu kami lewati dengan suka dan duka, dengan tawa dan air mata. Terpikir sejenak di benakku, aku tidak mau meninggalkan guru ini. Tapi takdir memang takdir. Hari terakhir di kelas empat, aku menangis sejadi - jadinya. Dalam hati menolak untuk naik kelas. Namun bagaimana lagi? Tidak mungkin aku mengulang kelas empat karena ingin guru itu terus menjadi wali kelasku.

Hari pertama menjadi anak kelas lima. Pusing juga ternyata menghadapi rumus dan materi yang banyaknya minta ampun. Baru sebentar melihat papan, tahu - tahu sudah penuh dengan rumus dan simbol. Aku melirik teman sebelahku, ada yang mencatat, ada yang tampak kebingungan, ada yang sudah tampak lemas. Aku? Antara ingin tidur atau kabur. Ternyata, kelas lima tidak selama itu rasanya.


 Aku duduk di bangku kelas enam sekarang. Sedikit grogi takut kalau gurunya galak. Kesan pertamaku di hari - hari pertama kelas enam, pasti bakal flat banget deh. Ternyata aku salah, hidupku penuh warna dan canda tawa. Materi dan tugas tak ada rasanya karena orang - orang sekitarku yang benar - benar menyemangati dan mewarnai hariku sehingga tugas - tugas itu sedikit terasa lebih ringan.

Sebentar lagi ujian akhir. Rasanya baru kemarin aku masuk kelas enam, eh sekarang sudah harus menghadapi momen penentuan. Deg-degan? Pasti. Apalagi katanya soal-soal ujian akhir itu lebih sulit daripada latihan harian biasa. Tiap hari guru-guru makin rajin ngasih latihan soal. Ada yang gampang, ada juga yang bikin aku garuk-garuk kepala. Teman-teman juga punya ekspresi beragam: ada yang santai kayak nggak ada beban, ada yang panik setiap kali dengar kata “ujian”, dan ada juga yang sudah sibuk nyusun strategi belajar. Aku sendiri masih bingung antara belajar dan godaan tidur setiap lihat kasur yang seolah merayu untuk tidur saja. Aku berhasil melawan godaan tidur itu dan menghafal bahan untuk ujian.

Ujian akhir pun tiba. Hari yang ditunggu dan juga ditakuti oleh seluruh murid kelas 6. Ujian yang menentukan lanjutkah tidak kami dari sekolah ini. Bel berbunyi, seluruh murid masuk keruangan ujian masing - masing. Aku mengerjakan soal dengan sungguh - sungguh berharap jawabanku benar. Ujian diselenggarakan selama beberapa hari, adik - adik kelasku belajar dari rumah agar sekolah tetap steril dan kami bisa tetap fokus ujian tanpa suara yang dapat mengganggu. 

Selesai ujian, lega rasanya. Kami menjalani sisa hari di sekolah ini dengan bertukar cerita dan bermain bersama sebelum beda sekolah. Aku sangat bersemangat! Karena katanya akan ada performance untuk acara terakhir kami sebagai anak kelas enam. Waktu kami berlatih hanya dua bulan, itu pun terpotong libur - libur nasional. 

Duh, tidak terasa ternyata sudah hari kami tampil. Syukurlah acara berjalan lancar. Walaupun memang ada insiden tidak terduga seperti saat temanku berbicara di atas panggung, mikrofonnya mati. Itu tentu sedikit membuat acara tidak sempurna. Namun tak apa, semua masih menikmati acara. Tiba saatnya untuk diumumkan anak - anak yang mendapat nilai seratus di ujian akhirnya. Beberapa temanku namanya disebut dan mereka naik ke panggung. Aku gelisah, kenapa namaku tidak dipanggil? Ternyata, anak - anak yang barusan terpanggil ialah anak - anak yang mendapat satu nilai seratus. Aku masih ada harapan, berarti nilai seratusku lebih dari satu. Satu persatu temanku naik ke panggung. Aku mulai cemas, nilaiku ada yang seratus tidak ya? Disaat kepala sekolah mengumumkan anak - anak yang mendapat tiga nilai seratus, tiba tiba.. Aku terpanggil! Lega rasanya. Ingin menangis sekarang juga namun malu disorot kamera dan takut makeup-nya luntur. Syukurlah. Di akhir acara, aku menangis memeluk kedua orangtuaku. Alhamdulillah, aku bisa membuat mereka bangga. Nilaiku bagus saat lulus sekolah. 

Setelah performance itu, kami sudah sangat lega. Di hari terakhir kami di sekolah dasar, wali kelas kami yang memang sifatnya chill tidak terlalu membuat suasana kelas menjadi melankolis. Guru bahasa Indonesia itu menilai anak muridnya satu - satu. Menceritakan bagaimana dia melihat kepribadian dan sifat murid - muridnya. Di awal, kelas masih terasa ceria. Namun pada akhirnya, kami tak kuasa menahan air mata, guru kami juga ikut menangis. Aku tidak ingin meninggalkan sekolah ini, ucapku dalam hati. Namun sudah waktunya aku beralih ke sekolah baru dan melanjutkan pendidikanku.

Beberapa bulan lalu aku mendaftar di SMPIA 55 Jatimakmur, dan aku diterima di sekolah itu. Sekarang saatnya ku melambaikan tangan perpisahan kepada sekolah lamaku dan memulai perjalanan baru di sekolah ku sekarang. 

Semoga cerita - ku ini menginspirasi para pembaca, terimakasih sudah membaca dari awal hingga akhir blog - ku ini. 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Comments

  1. MasyaAllah, ceritanya sangat indah dan penuh makna. Perpisahan dengan sekolah lama tentu bukan hal yang mudah, karena banyak kenangan manis yang tertinggal di sana. Namun, semangat mu untuk melangkah ke sekolah baru menunjukkan bahwa kamu siap menghadapi tantangan dan pengalaman baru yang lebih seru. Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama teman-teman yang mungkin juga sedang mengalami hal serupa. Semoga di sekolah baru kamu semakin berprestasi, mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat, serta bertemu teman-teman yang baik dan menyenangkan. Teruslah menulis dan berbagi cerita seperti ini, karena tulisanmu membawa semangat dan energi positif bagi para pembaca. Sukses selalu untuk perjalanan barumu 😊

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Era Baru, Gadget Baru, Gaya Hidup Baru

Kalau Aku Bisa Bicara Dengan Diriku yang Dulu